Biografi Syekh Ihsan al-Jampesi

 
Biografi Syekh Ihsan al-Jampesi

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren 

3          Penerus Beliau
3.1       Putera dan puteri Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier dan Karya Beliau
4.1.      Pengasuh Pesantren 
4.2.      Karya-karya Beliau 

5          Teladan Beliau 

6          Referensi

 

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir 

Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri al-Jawi asy-Syafi'I atau biasa dikenal dengan Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra kedua dari pasangan pendiri Pondok Pesantren Jampes (sekarang berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Ihsan), KH. Dahlan bin Saleh dengan Nyai Artimah. Kakaknya bernama Marzuqi yang kelak menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Saat berusia 5 tahun, kedua orang tua beliau bercerai, ibunya lalu kembali ke desanya di Banjarmelati, Kediri. Beliau lahir sekitar tahun 1901 di Jampes, Kediri, Jawa Timur.

Kakek Syekh Ihsan al-Jampesi, Kiai Saleh adalah seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat. Dari silsilah nasab sang kakek inilah, konon masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jawa Barat) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon.

Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.

1.2       Riwayat Keluarga 

Tak lama sepeninggal ayahnya, KH.Ihsan lalu mengakhiri masa lajangnya. Beliau menikah dengan seorang gadis dari desa Sumberejo poncokusumo Malang, namun hanya sampai beberapa waktu lalu mereka berpisah. Lalu menikah dengan putri KH.Muhyin dari desa durenan trenggalek yang masih memiliki hubungan famili dengannya. Pernikahan ini juga berakhir dengan perceraian (bekas istrinya ini kemudian dinikahi oleh KH.Jazuli 
Ustman pengasuh pesantren ploso Kediri).

Selanjutnya beliau menikah lagi denga nseorang gadis dari desa Kapu Pagu Kediri yang juga berakhir dengan perpisahan dan kemudian mempesunting seorang gadis dari desa Polaman Kediri dan inipun tidak berlanjut .Pada tahun 1932, kepemimpinan pesantren Jampes diserahkan oleh KH.Kholil kepada KH.Ihsan. Semenjak itulah KH.Ihsan memikul tanggungjawab besar sebagai pengasuh pesantren jampes.

Pada tahun 1932, KH.Ihsan yang telah dikenal sebagai kyai pengasuh pesantren jampes menikah lagi dengan seorang gadis dari desa Kayen Kidul kecamatan Pagu Kediri yang kemudian menjadi pendamping beliau seterusnya. Isterinya yang kelima ini bernama Surati (Hj.Zaenab) puteri dari H.Abdurrahman, salah seorang alumni pesantren jampes yang menjadi murid almarhum KH.Dahlan.

1.3       Wafat

Tepat pada hari senin pukul 12 tanggal 25 Dzulhijjah 1371H atau 16september 1952, KH. Ihsan dipanggil oleh Allah swt untuk selama – lamanya dengan diiringi deraian air mata dari para keluarga dan santri yang masih sangat membutuhkan bimbingan dan pendidikan beliau. Jenazah beliau dimakamkan pada sore hari itu juga disebelah makam ayahnya di pemakaman khusus di desa putih yang berjarak 1KM disebelah selatan Jampes, tempat dimana disitu para keluarga dimakamkan.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak usia 6 tahun, Syekh Ihsan sudah mendapatkan pendidikan agama dari keluarganya, terutama dari ayah dan neneknya. Kemudian beliau mulai belajar ilmu-ilmu agama melalui lembaga pesantren. Untuk yang pertama kali, ia belajar di pondok pesantren Bendo Pare, Kediri yang diasuh oleh pamannya sendiri, KH. Khozin.

Pondok Pesantren tempat Syekh Ihsan pernah menimba ilmu:

  1. Pondok Pesantren Bendo Pare, Kediri asuhan KH. Khozin (paman Syekh Ihsan).
  2. Pondok Pesantren Jamseran, Solo.
  3. Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan, Semarang.
  4. Pondok Pesantren Mangkang, Semarang.
  5. Pondok Pesantren Punduh, Magelang asuhan KH. Ma'shum.
  6. Pondok Pesantren Gondanglegi, Nganjuk.
  7. Pondok Pesantren Bangkalan, Madura (asuhan KH. Kholil sang ‘Guru Para Ulama’).

2.2      Guru-Guru Beliau

  1.              KH. Dahlan bin Saleh
  2.              KH. Khozin
  3.              KH. Shaleh Darat (Semarang
  4.              ​KH. Dahlan, Semarang
  5.              KH. Ma'shum
  6.              KH. Kholil Bangkalan


2.3      Mengasuh Pesantren

Pada tahun 1932, kepemimpinan pesantren Jampes diserahkan oleh KH.Kholil kepada KH.Ihsan. Semenjak itulah KH.Ihsan memikul tanggungjawab besar sebagai pengasuh pesantren jampes. Untuk melengkapi pendidikan di dalam pondok pesantren yang sudah terbilang besar diwaktu itu, maka pada tahun 1942, KH.Ihsan mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Mafatihul Huda( MMH ).

Madrasah ini terdiri dari tujuh jenjang kelas dan kedua dinamakan sifir awal dan tsani, yaitu  merupakan masa persiapan untuk memasuki madrasah lima tahun berikutnya (kini menjadi 12 jenjang, yakni Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah). Madrasah yang baru didirikan itu diselenggarakan pada sore hari dan ditempatkan di beberapa komplek asrama pondok. Baru beberapa tahun kemudian madrasah ini memiliki gedung sendiri dan diselenggarakan dipagi hari.

Popularitas kitab tersebut pun sampai di telinga penguasa Mesir ketika itu, Raja Faruq.  Pada 1934 sang raja mengirim utusan ke Dusun Jampes untuk menyampaikan keinginannya agar KH.Ihsan bersedia diperbantukan mengajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, permintaan tersebut urung diterima lantaran kecintaan sang kiai kepada tanah kelahirannya. Beliau ingin mengabdikan diri kepada warga desanya melalui pendidikan. Dedikasinya memajukan pendidikan Islam di wilayahnya itu tak lagi diragukan.

3          Penerus Beliau

3.1       Putera dan puteri Beliau

KH.Dahlan kemudian menikah lagi dengan seorang gadis dari Banaran Pare Kediri, bernama Maryam puteri KH.Sholeh pengasuh pondok pesantren Banaran, Pare. Dari pernikahannya yang kedua ini dia mendapatkan beberapa putera-puteri, yaitu :

  1. Khozin
  2. Ruqayah
  3. Tubaji
  4. Maslamah
  5. Halwiyah
  6. Muhsin ( kelak dikenal sebagai KH.Muhsin).
  7. Muslim
  8. Aminah
  9. Anak perempuan yang meninggal sewaktu dilahirkan

Dari Isteri beliau yang bernama Hj. Zainab. Beliau menurunkan delapan putera-puteri, yaitu:

  1. Husniyah (meninggal sewaktu masih kecil)
  2. Hafsah
  3. Muhammad
  4. Abdul Malik
  5. Rumaisa
  6. Mahmudah
  7. Anisah
  8. Nusaiziyah


3.2       Murid-murid Beliau

  1. KH. Marzuqi Dahlan (adik kandung)
  2. Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir, Tuban;
  3. KH. Zubaidi di Mantenan, Blitar;
  4. KH. Mustholih di Kesugihan, Cilacap;
  5. KH. Busyairi di Sampang, Madura;
  6. KH. Hambili di Plumbon, Cirebon;
  7. KH. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

4          Karier, Karya Beliau 


4.1.      Pengasuh Pesantren 

Pada tahun 1932, kepemimpinan pesantren Jampes diserahkan oleh KH.Kholil kepada KH.Ihsan. Semenjak itulah KH.Ihsan memikul tanggungjawab besar sebagai pengasuh pesantren jampes. Untuk melengkapi pendidikan di dalam pondok pesantren yang sudah terbilang besar diwaktu itu, maka pada tahun 1942, KH.Ihsan mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Mafatihul Huda( MMH ).

4.2.      Karya-karya Beliau

Sejak muda, Syekh Ihsan al-Jampesi terkenal dengan sosok ulama yang suka membaca. Beliau memiliki motto (semboyan hidup), “Tiada Hari tanpa Membaca”. Buku-buku yang dibaca beraneka ragam, mulai dari ilmu agama hingga yang lainnya, dari yang berbahasa Arab hingga bahasa Indonesia.

Selain itu,KH.Ihsan mempunyai hobi menulis (mengarang). Waktu-waktu beliau bilamana tidak digunakan untuk membaca /muthalaáh, maka digunakan untuk menulis. Sudah barang tentu yang selalu beliau tulis adalah naskah – naskah yang bertema keagamaan, sesuai dengan kedudukan beliau sebagai kyai pengasuh pondok pesantren

Seiring kesukaannya menyantap aneka bacaan, tumbuh pula hobi menulis dalam dirinya. Di waktu senggang, jika tidak dimanfaatkan untuk membaca, diisi dengan menulis atau mengarang. Naskah yang beliau tulis adalah naskah-naskah yang berisi ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan kedudukannya sebagai pengasuh pondok pesantren.

  1. Tashrih Al-Ibarat

Pada tahun 1930, Syekh Ihsan al-Jampesi menulis sebuah kitab di bidang ilmu falak (astronomi) yang berjudul Tashrih Al-Ibarat, penjabaran dari kitab Natijat Al-Miqat karangan KH. Ahmad Dahlan, Semarang.

  1. Siraj Al-Thalibin

Selanjutnya, pada 1932, ulama yang di kala masih remaja menyukai pula ilmu pedalangan ini juga berhasil mengarang sebuah kitab tasawuf berjudul Siraj Al-Thalibin. Kitab tersebut merupakan syarah Minhaj Al-Abidin karya Imam Al-Ghazali. Kitab Siraj Al-Thalibin ini di kemudian hari mengharumkan nama Ponpes Jampes dan juga bangsa Indonesia, karena kitab tersebut menjadi kitab yang cukup populer di Mesir.

Ada kisah menarik di saat Kiai Ihsan menyowankan kitab Siraj Al-Tholibin tersebut kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Kisah ini kami dapat dari Kiai Said Ridwan di saat belajar Ibnu Aqil di Aliyah Tebuireng.

Suatu hari, KH Ihsan Jampes memohon kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari untuk mengoreksi kitab yang baru ditulisnya. Kiai Ihsan melepaskan sandalnya di pintu gerbang pesantren Tebuireng sebagai tata krama kepada Hadratussyaikh.

Ketika Hadratussyaikh menemuinya, Kiai Ihsan menyampaikan permohonannya untuk mengoreksi dan meminta sambutan atas kitab tersebut. Kitabnya yang masih tertulis tangan dan berupa lembaran diajukan kepada Hadratussyaikh.

Dengan sengaja, Hadratussyaikh mengambil beberapa lembar di tengah tanpa sepengetahuan Kiai Ihsan, dengan tujuan untuk menguji. Di hadapan Kiai Ihsan, Hadratussyaikh membuka lembar demi selembar. Akhirnya, Hadratussyaikh menunjukkan halaman yang hilang itu. Seketika itu, Hadratussyaikh meminta Kiai Ihsan untuk menuliskan kembali beberapa halaman yang hilang itu di hadapan Hadratussyaikh.

Kiai Ihsan pun menulisnya dengan lancar, seolah-olah hapal diluar kepala kitab yang ditulisnya. Setelah selesai, Hadratussyaikh pun mengeluarkan lembaran yang disembunyikan dan mengoreksi hasil tulisan Kiai Ihsan.

Subhanallah, ternyata kedua tulisan ini sama persis. Akhirnya, Hadratussyaikh mendoakan keberkahan untuk kitab Sirajut Al-Thalibin. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari pun takjub atas kecerdasan Kiai Ihsan. Hingga beliau menjuluki Kiai Ihsan dalam pengantarnya dengan:

 (العالم العلامة، الحبر البحر الفهامة، الأديب الألمعي، واللبيب اللوذعي الشيخ)

  1. Manahij Al-Amdad

Tahun 1944, beliau mengarang sebuah kitab yang diberi judul Manahij Al-Amdad, penjabaran dari kitab Irsyad Al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 H), ulama asal Malabar, India. Kitab setebal 1036 halaman itu sayangnya hingga sekarang belum sempat diterbitkan secara resmi.

  1. Irsyad Al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa Al-Dukhan

Selain Manahij Al-Amdad, masih ada lagi karya-karya pengasuh Ponpes Jampes ini. Di antaranya adalah kitab Irsyad Al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa Al-Dukhan, sebuah kitab yang khusus membicarakan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam.

Kitab yang berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati al-Qahwati wa al-Dukhan (kitab yang membahas kopi dan rokok) ini tampaknya ada kaitannya dengan pengalaman hidupnya saat masih remaja.

 

5          Teladan Beliau

Syekh Ihsan al-Jampesi terkenal sebagai seorang ulama yang pendiam dan tak suka publikasi. Padahal beliau adalah salah satu ulama yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah nusantara pada abad ke-19 (awal abad ke-20.

Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes (kini Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya makin terkenal setelah kitab karangannya Siraj Al-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan, dari karyanya ini pula, ia dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat. Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah:

  1. Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir, Tuban;
  2. KH. Zubaidi di Mantenan, Blitar;
  3. KH. Mustholih di Kesugihan, Cilacap;
  4. KH. Busyairi di Sampang, Madura;
  5. KH. Hambili di Plumbon, Cirebon;
  6. KH. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Semasa hidupnya, Kiai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi. Tetapi, beliau juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih, hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya. Karena itu, karya-karya tulisannya tak sebatas pada bidang ilmu tasawuf dan akhlak semata, tetapi hingga pada persoalan fikih.

Tepat pada hari Senin pukul 12, tanggal 25 Dzulhijjah 1371 H atau 16 september 1952, Syekh Ihsan al-Jampesi menghadap Allah SWT. Jenazah beliau dimakamkan pada sore hari itu juga, disebelah makam ayahnya di pemakaman khusus di Desa Putih yang berjarak 1 KM disebelah selatan Jampes, tempat di mana disitu para keluarga dimakamkan.

6         Referensi

           https://nahdlatululama.id/

 

 

 


 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya