Biografi KH. Muhammad Mansyur al-Betawi

 
Biografi KH. Muhammad Mansyur al-Betawi

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Mansyur al-Betawi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Melawan Penjajah
  5. Karier
  6. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Muhammad Mansyur Al-Betawi atau yang kerap disapa dengan panggilan Guru Mansyur lahir pada tahun 1295 H atau bertepatan pada tahun 1878 M, di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta. Beliau merupakan putra KH. Abdul Hamid bin Muhammad Damiri.

Wafat

Guru Mansyur wafat pada tanggal 12 Mei 1967. Jenazah beliau dimakamkan di halaman Masjid Jembatan Lima. Orang Betawi senantiasa ingat akan pesannya: “Rempug! Kalau jahil belajar. Kalau alim mengajar. Kalau sakit berobat. Kalau jahat lekas tobat”.

Pendidikan

Guru Mansyur memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya, KH. Abdul Hamid bin Muhammad Damiri. Beliau belajar ilmu hisab atau ilmu falak, disamping ilmu-ilmu agama lainnya. Ketika ayahnya meninggal, Guru Mansur melanjutkan pendidikannya dengan belajar kepada kakak kandungnya KH. Mahbub dan kakak misannya KH. Tabrani.

Pada usia 16 tahun, Guru Mansur juga pernah belajar kepada seseorang ulama dari Mester Cornelis bernama Haji Mujtaba bin Ahmad. Di sana selama empat tahun.

Setelah beliau belajar kepada Haji Mujtaba, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Makkah. Selama di Makkah, beliau berguru kepada sejumlah ulama, antara lain:

  1. Syekh Mukhtar Atharid Al Bogori
  2. Syekh Umar Bajunaid Al Hadrami
  3. Syekh Ali Al Maliki
  4. Syekh Said Al Yamani
  5. Syekh Umar Sumbawa

Setibanya di kampung halaman, beliau mulai membantu ayahnya mengajar di rumah. Bahkan ia sudah ditunjuk seabagai pengganti sewaktu-waktu ayahnya berhalangan.

Melawan Penjajah

Ketika Jakarta diduduki Belanda tahun 1946, Guru Mansyur memerintahkan agar di menara mesjid Jembatan Lima dikibarkan bendera merah putih. Belanda memerintahkan bendera diturunkan, Guru Mansyur menolak. Tentara Belanda menembaki menara mesjid. Guru Mansyur tidak berubah pendirian.

Melihat kekerasan hati Guru Mansyur, Belanda bertukar siasat. Belanda menyerahkan hadiah berupa uang kertas satu kaleng biskuit. Guru Mansyur langsung menolak sambil berkata: “Gue kagak mau disuruh ngelonin kebatilan” Guru Mansyur pemberani, namun hatinya mulia.

Karier

Selain mengajar di tempatnya, beliau juga mengajar di Madrasah Jam’iyyah Khoir, Pekojan pada tahun 1907 Masehi. Kemudian diangkat menjadi penasehat syar’i dalam organisasi Ijtimak-UI Khoiriyah.

Pada tahun 1915, Guru Mansur diangkat menjadi penghulu daerah Penjaringan Betawi. Beliau juga pernah menjabat sebagai Rois Nahdatul Ulama cabang Betawi ketika zamannya KH. Hasyim Asy’ari. Cita-cita dan pengalaman Guru Mansur dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam telah dibuktikannya dengan jalan berdakwah, mendidik, dan membina pemuda-pemudi harapan bangsa dan agama.

Sebagai sasaran penunjang cita-cita tersebut, beliau mendirikan sekolah, madrasah, dan pesantren, serta majlis taklim. Menurut informasi dari KH. Fatahillah (cucu Guru Mansur), tak ada ulama lain pada masanya yang menguasai ilmu falak selain Guru Mansur. Di samping berdakwah dengan lisan, beliau juga berdakwah dengan tulisan.

Karya-Karya

Beberapa hasil karya tulis Guru Mansyur yang berkaitan dengan ilmu falak (astronomi islam) antara lain:

  1. Sullamun Nayyiroin
  2. Khulasatul Jawadil
  3. Kaifiyatul Amal Ijtimak, Khusuf, wal Kusuf
  4. Mizanul I’tidal
  5. Jadwal Dawaa’irul Falakiyah
  6. Majmu’ Arba’ Rasa’il Fii Mas’alatil Hilal
  7. Rub’ul Mujayyab
  8. Mukhtashor Ijtima’un Nayyiroin
  9. Ilmu Falak dan Perlawanan terhadap Penjajah

Guru Mansyur mendalami ilmu falak karena dulu di Betawi orang menetapkan awal Ramadhan dan hari lebaran dengan melihat bulan. Kepala penghulu Betawi menugaskan dua orang pegawainya untuk melihat bulan. Jika bulan terlihat, maka pegawai tadi lari ke kantornya memberi tahu kepala penghulu. Kepala penghulu meneruskan berita itu kepada mesjid terdekat.

Mesjid terdekat memukul bedug bertalu-talu tanda esok lebaran tiba. Kanak-kanak yang mendengar bedug bergembira, lalu mereka berlarian ke jalan raya sambil bernyanyi lagu dalam bahasa Sunda. Lebaran Tong lebaran Iraha Tong iraha Isukan Tong isukan.Tetapi banyak juga orang yang tidak mendengar pemberitahuan melalui bedug. Akibatnya lebaran dirayakan dalam waktu yang berbeda.

Guru Mansyur memahami permasalahan ini. Karena itu Guru Mansyur mendalami ilmu falak. Setiap menjelang lebaran Guru Mansyur mengumumkan berdasarkan perhitungan ilmu hisab lebaran akan jatuh dua hari lagi, umpamanya. Dalam adat Betawi Guru orang yang sangat alim, ilmunya tinggi, menguasai kitab-kitab agama, dan menguasai secara khusus keilmuan tertentu.