Biografi KH. Muslih al-Maraqi

 
Biografi KH. Muslih al-Maraqi

Daftar Isi Profil KH. Muslih al-Maraqi 

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Wafat
  4. Pendidikan
  5. Pengasuh pesantren
  6. Selalu Memberi Makna Gandul
  7. Sosok Ahli Tarekat
  8. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Muslih Abdurrahman atau yang kerap disapa dengan KH. Muslih al-Maraqi lahir pada tahun 1908 di perkampungan Suburan, Mranggen, Demak, sekitar 13 KM. sebelah timur Semarang. Mengenai tanggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Nasab

Dari Segi nasab, KH. Muslih al-Maraqi merupakan perpaduan antara ulama dan bangsawan di masanya. Dari garis keturunan ayah, ia memiliki silsilah dari Abdurrahman bin Qasid al-Hag bin Wiryo Kusumo atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sedo Krapyak bin Pangeran Sujatmika (Wijil 11/ Notonegoro II) bin Pangeran Sabrang bin Ketib bin pangeran Hadi bin Sunan Kalijaga, hingga Ranggalawe (Adipati Tuban) atau Syekh alJali (al-Khawaji) dari Baghdad, yang memiliki rentetan silsilah sampai pada Sahabat Abbar (Paman Nabi).

Wafat

Pada musim haji 1981, al-Maraqi memejamkan matanya untuk selama-selama. Jenazahnya dikebumikan di Mala, Mekkah. la sangat dihormati oleh para mukimin atau orang-orang Indonesia yang bermukim di Mekkah, dan setiap tahunnya selalu diperingati hari wafatnya oleh keluarga besar Futuhiyyah.

Pendidikan

KH. Mushlih al-Maraqi memulai pendidikanya dengan belajar kepada orangtuanya sendiri, Kiai Abdul Rahman bin Gasid al-Hag Kemudian, ia mulai melakukan perjalanan intelektual dengan nyantri kepada Kiai Ibrahim Yahya, Brumbung, Mranggen.

Sewaktu menjadi murid Kiai Ibrahim inilah, ia diajak menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya. Merasa belum cukup dengan ilmu yang dimiliki, Kiai Mushlih al-Maraqi memperluas cakrawala ilmu agama dengan berkelana ke banyak kiai dan pesantren di luar Mranggen. Pertama kali ia belajar di Pesantren Mangkang Kulon, sebelum berturut-turut nyantri kepada Kiai Zubeir dan Syekh Imam di Sarang, di samping menjadi santri kalong (tidak bermukim) di pesantren Kiai Ma'shum (Lasem).

Selanjutnya, pada tahun 1931, ia kembali ke Mranggen dan turut serta mengabdikan ilmunya di pesantren keluarganya. Setelah beberapa tahun di Mranggen, ia kembali menuntut ilmu di Pesantren Tremas yang ketika itu diasuh oleh Kiai Dimyati.

Ketika di Tremas inilah ia berjumpa dengan Kiai Ali Maksum, putra gurunya sewaktu menjadi santri kalong di Lasem. Hubungan Kiai Ali dengan Kiai Mushlih al-Maraqi terhitung cukup dekat. Sewaktu Kiai Ali menjadi kepala Madrasah di Tremas, Kiai Mushlih al-Maraqi diminta menggantikan tugasnya untuk mengajar ilmu nahwu Al-Fiyah ibn Malik. Konon, ketika Kiai Mushlih al-Maraqi diminta mengajarkan kitab Al-Fiyah, ia sempat pucat-pasi. Maklumlah, baru pertama kalinya ia dituntut mengajarkan materi pelajaran, sementara ia sendiri sedang dalam proses mendalaminya.

Berkat dorongan dan motivasi Kiai Ali, akhirnya Kiai Mushlih al-Maraqi menerima tugas itu. Ia pun mulai mempelajari Al-Fiyah secara otodidak selama tujuh hari, tanpa keluar dari kamarnya sama sekali. Hasilnya, ia mampu menguasai pengajaran Al-Fiyah dengan baik dan sempurna, sehingga para muridnya antara lain mantan Menteri Agama RI, Mukti Ali, tertarik dengan sistem pengajaran Al-Fiyah yang disampaikannya.

Secara aktivitas belajar mengajar di Pesantren Tremas yang didirikan oleh Kiai Abdul Manan (menantu pangeran Honggowidjoyo Iw. 1830 MJ), Kiai Mushlih al-Maraqi terkenal sebagai seorang ulama ahli fiqih, hadits, ushul figih, ulum al-Qur’an, hingga ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf, ilmu badi, maani dan bayan).

Pengasuh Pesantren

Bagi Kiai Mushlih al-Maraqi, Pesantren Tremas memang sangat berarti dalam karir intelektualnya. Ia pun sangat tertarik dengan model pengembangan pendidikan di Pesantren Tremas, sehingga membuatnya terinspirasi untuk menjadikan Pesantren Futuhiyyah seperti Pesantren Tremas.

Selangkah demi selangkah, Kiai Mushlih al-Maraqi mulai mengembangkan Pesantren Futuhiyyah yang sempat vakum sewaktu dipimpin Kiai Utsman (kakak), dan Kiai Muradi (adik). Pesantren Futuhiyyah pun kemudian dikembangkan layaknya Pesantren Tremas yaitu antara tahun 1936-1981. Mula-mula, Kiai Mushlih al-Maraqi mendirikan Madrasah Ibtidaiyyah (1936), kemudian secara perlahan namun pasti didirikan pula Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Fakultas Syariah UNNU, hingga sekolah-sekolah umum, seperti SLTP (1975) dan SMU.

Baru setelah kemerdekaan, Kiai Mushlih al-Maraqi bisa leluasa mengembangkan Pesantren Futuhiyyah. Selama menjag pengasuh Pesantren Futuhiyyah (1939-1981), ia tercatat sebaga manajer pendidikan yang brilian. Ini terbukti dari keahliannya, mengelola Pesantren Futuhiyyah dengan model Trisula. Satu Sisi, ia mengembangkan pendidikan formal di pesantren, di sisi lain, ia mengembangkan pesantren tradisional sekaligus pengajian tarekat.

Dalam persepsi Kiai Mushlih al-Maraqi, penyelenggaraan pola pendidikan Madrasah maupun sekolah-sekolah formal, bahkan perguruan tinggi, perlu dikembangkan di pesantren dalam rangka membekali sisi duniawi para santri. Dalam konteks ini, Kiai Mushlih al-Maraqi adalah sosok ulama progresif, karena ia berani tampil terdepan di antara kiai-kiai pesantren lain, dengan memotori berdirinya perguruan tinggi (Fakultas Syariah UNNU, sekarang IIWS) di lingkungan Pesantren Futuhiyyah. Keputusan ini tentu saja sangat brilian, mengingat awal tahun 1980 hanya beberapa pesantren besar yang memiliki perguruan tinggi.

Walaupun Kiai Mushlih al-Maraqi tergolong ulama progresif, tapi ia memiliki komitmen tinggi untuk mempertahankan tradisi. Ini terbukti di tengah hiruk-piruk dan rutinitas proses pembelajaran di pendidikan formal, Kiai Mushlih al-Maraqi tetap mengajarkan kitab-kitab kuning dan mengembangkan tarekat Qadariyyah wa Nagsabandiyah di pesantrennya. Bahkan untuk menambah wawasan keislamannya, ia juga masih menyempatkan diri belajar kepada Syekh Yasin al-Fadani di sela-sela menjalankan ibadah haji.

Di samping itu, sebagai salah satu bentuk komitmen Kiai Mushlih al-Maraqi dalam mempertahankan tradisi, setiap santri yang lulus Madrasah Aliyah diharuskan sudah hafal Al-Fiyah. Itulah sebabnya, Pesantren Futuhiyyah juga terkenal sebagai “Pesantren Alat” dengan menitikberatkan penguasaan ilmu alat, nahwu dan sharaf.

Selalu Memberi Makna Gandul

Sisi menarik pribadi Kiai Mushlih al-Maraqi adalah kejelian dan ketelitian dalam mengajar dan berkarya. Ia dikenal sangat tekun membaca, dengan keahlian khusus, membaca sekaligus memberi makna gandul kitab-kitab Arab yang dipelajarinya. Hampir semua kitab-kitab koleksi Kiai Mushlih al-Maraqi, terutama yang diajarkan kepada santrinya, selalu bermakna gandul.

Ada alasan tertentu, mengapa Kiai Mushlih al-Maraqi selalu membiasakan memberi makna gandul terlebih dahulu kitab yang akan dibaca dan diajarkan kepada para santri.

Pertama, dalam rangka menghindari salah paham para santri terhadap pesan tertulis pengarang kitab. Karena dengan terlebih dahulu memaknai gandul, secara tidak langsung seseorang telah mendalami dan mampu memahami secara utuh maksud pengarang.

Kedua, untuk berjagajaga di saat sibuk atau pada usia senja, karena rutinitas kerja dan usia tua sangat mempengaruhi tingkat pemahaman dan pemaknaan teks Arab Gandul.

Sedari awal Kiai Mushlih al-Maraqi mengembangkan pesantren bukan dalam rangka transformasi santri menjadi kiai semata. la mengerti kebutuhan hidup, yang tentu saja menyita waktu, pada gilirannya akan menjauhkan para santri dari kitab kuning. Karena itu, agar santri tetap bisa membaca dan mempelajari kitab kuning, keberadaan makna gandul sangat dibutuhkan untuk menunjang pemahaman meskipun lama tidak belajar.

Kendati demikian, kesuksesan itu bukan berarti tanpa rintangan dan hambatan. Pada saat ia sedang mulai berkonsentrasi mengembangkan Pesantren Futuhiyyah, kondisi sosial dan politik di Mranggen yang terletak tidak jauh dari Semarang sedang berkecamuk, sehingga kurang kondusif untuk melakukan kegiatan pendidikan.

Sosok Ahli Tarekat

Secara umum, catatan tentang riwayat hidup Kiai Mushlih memang tidak sebanyak catatan para ulama sezamannya seperti Kiai Ali Maksum (Krapyak, Yogyakarta), Kiai Mustain Romly, Kiai Ahmad Shiddiq, dan sebagainya. Meski demikian, bukan berarti kiai yang juga dikenal dengan Syekh al-Mursyidin (Guru para mursyid alias mahaguru tarekat), kalah pengaruhnya dengan para ulama sezamannya. Bahkan ia bisa disebut sebagai salah satu pionir terorganisasinya tarekat al-Mu'tabarah di Indonesia, sehingga ia sangat dihormati di kalangan ahli tarekat.

Karya-Karya

Selain, memanfaatkan waktunya untuk mengajar, KH. Mushlih al-Maraqi juga banyak menulis kitab-kitab Arab, Ia merupakan sosok ulama yang cukup produktif menulis, dengan bukti peninggalan empat karya utamanya yang ditulis selama masa kurun kepemimpinannya sebagai pengasuh Pesantren Futuhiyyah, 1936-1981.

Pertama, kitab “Hidayah al-Widan” yang berisi kurang lebih 100 bait tentang ilmu nahwu. Kitab ini sekarang lebih populer dengan nama “Sulam as-Shibyin”, yang notabenenya terjemahan dari “Hidayah al-Widan”, ditulis oleh menantunya, Kiai Muhammad Ridhwan.

Kedua, kitab “Inarah az-Dzalam” yang berisi kurang lebih 60 bait. Kitab ini mengupas masalah, antara lain, 50 dasar-dasar tauhid (sifat wajib, mustahil, serta jaiz bagi Allah dan Rasul-Nya), stratifikasi tasawuf (tarekat, hakekat, dan makrifat), masalah dzikir dan metode penyucian diri. Kitab ini lebih banyak mencerminkan ajaran teologinya Syekh Abu Hasan al-Asy'ari, dan tasawuf Syekh Junaid al-Bagdhadi.

Ketiga, kitab “Wasdil Wushnl al-Abd ila Mawlah bi Syarh Nail atTadalli min Ailah”, berisi 25 bait tentang masalah “membuka pintu Tuhan” berikut syarahnya dalam bahasa Arab. Dalam pembukaan kitabnya ini, Kiai Mushlih al-Maraqi menuturkan bahwa kitab yang pada awalnya merupakan pemberian Kiai Abdul Manan bin Muhammad Imdad (Kendal) ini tidak ada sampul dan judulnya. Terkecuali hanya penjelasan tentang penyelesaian penulisannya, pada 23 Ramadhan 1273. Oleh Kiai Mushlih al-Maraqi kitab yang masih dalam bentuk nadzam ini kemudian diberi nama “Nail atTadalli min Allah” (Menggapai Petunjuk Tuhan), karena terinspirasi oleh isi dari beberapa bait syair yang ditulis Ibn Athaillah, tentang pintu menuju Tuhan.

Keempat, “Ny al-Burhani” yang merupakan terjemahan dengan sedikit catatan tambahan Kiai Mushlih al-Maraqi atas kitab “Mandgib Abdul al-Oadir al-Jailani”.

Di samping keempat karya utamanya tersebut, Kiai Mushlih al-Maraqi juga menyusuri beberapa kitab awrad wirid-wirid terutama dalam rangka mendukung praktik tarekat Oadiriyyah wa Nagsyabandiyyah, antara lain: “Tsamrah al-Oulnb” berisi bacaan wirid harian yang dibaca setelah shalat lima waktu, “al-Munjiyat” berisi tentang tata cara dan bacaan untuk bertawasul kepada para wali dan Nabi Muhammad Saw. dengan beberapa catatan tambahan langsung dari Kiai Mushlih al-Maraqi dan “Nashar al-Fajr , yang notabenenya merupakan teks “Hizb ahl al-Badr”, dengan sedikit catatan tambahan dan komentar.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya