Biografi KH. Abdul Razaq bin Ma'mun

 
Biografi KH. Abdul Razaq bin Ma'mun

Nama lengkapnya KH. Abdul Razaq bin Ma'mun, beliau lahir pada bulan Rabi’ul Awwal 1335H bertepatan dengan tahun 1916. Ia adalah cucu dari Guru Muhammad Mughni, ulama besar Kuningan, Jakarta Selatan dari garis ibu. Belum diketahui dengan pasti mengenai riwayat pendidikannya di masa kecil sampai remaja, namun orang mengenalnya dari kiprah dan karya yang diukirnya.

Selain mengaji di Jakarta, ia pernah menggali ilmu agama di Mekkah selama 6 tahun. Karena keluasan ilmu fiqhnya, Guru Abdurrazak pernah duduk sebagai Katib Syuriah PBNU 1967-1971. Kiai Bisri Syansuri menyaksikan sendiri dan mengakui kompetensi fiqh kiai Kuningan ini.

Salah satu kiprahnya adalah mendirikan Madrasah Raudhatul Muta’ allimin dengan berbadan badan hukum yayasan. Kisah pendirian madrasah ini bermula ketika pada awal tahun 1945, ia bersama dua kyai Betawi lainnya (KH. Ali Syibromalisi dan KH. Abd Syakur Khairy) mengikuti Mu‘tamar Nahdhatul Ulama yang diadakan oleh PBNU di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Beberapa hari sebelum keberangkatannya menuju Jawa Timur mereka bertiga berkumpul di kediaman H. Abd Rachim bin Jahip untuk mempersiapkan kepantasan perlengkapan diri dalam acara yang dianggap sangat penting dan besar.

Sepulangnya dari mengikuti mu’tamar, ketiga ulama tersebut dengan berbekal ilmu disertai niat luhur, tulus serta pandangannya jauh ke depan dalam bercita-cita dan melaksanakan amanat yang telah diterima dalam rangka memajukan Agama, Bangsa, dan Negara dalam pendidikan dan ajaran-ajaran Islam yang berpaham pada Ahlussunnah Wal Jamaah, maka ketiga ulama tersebut mulai mengembangkan visi dan misinya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Cita-cita yang mulia tersebut mendapat dukungan dan restu dari para ulama Kuningan Jakarta Selatan diantaranya: KH. Abdulloh bin H. Suhaemi, KH. Sahrowardi bin Guru Mughni dan KH. Rahmatulloh bin Guru Mughni, serta sambutan yang sangat luar biasa dari masyarakat Kuningan Mampang dan yang lebih menggembirakan lagi dukungan dari para pengusaha yang ada di Jakarta Selatan khususnya Kuningan-Mampang.

Dengan modal awal hasil pembelian tanah di Kuningan Mampang, para perintis terus melakukan pendekatan kepada para pengusaha untuk perluasan pembelian lahan tanah dan pembangunan sebuah pendidikan madrasah di sekitar lokasi tersebut, para pendiri telah didukung oleh beberapa orang pengusaha susu di Kuningan dan pengusaha lainnya yang ada di Jakarta Selatan, serta sumbangan moril maupun material masyarakat Kuningan dan Mampang yang begitu antusias untuk mendirikan lembaga pendidikan.

Pada bulan Agustus 1945 terbentuklah sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama “Madrasah Yayasan Raudhatul Muta’allimin yang dipimpin oleh KH. Abdurrazak Ma’rnun lokasi di Jalan KH. Abd. Rochim (Jalan Kuningan Barat Raya) Kelurahan Kuningan Barat Kecamatan Mp. Prapatan RT.003 RW.002. di lokasi inilah dijadikan sebagai “TITIK AWAL” fisik bangunan madrasah didirikan, yang pekerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Kuningan, Mampang dan sekitamya tetapi bentuk fisiknya masihlah sangat sederhana.

Berpindahnya kepala sekolah madrasah tsanawiyah negeri 1, Bapak H. Ahmad Chaerani H. Mardani, BA menjadi pengawas pendidikan tingkat Tsanawiyah kecamatan Mp. Prapatan maka dengan pengalaman yang didapatkan sejak kepemimpinannya di MTsN 1 beliau bersama kepala sekolah Ibtidaiyah Bapak Samani, Rifa’I Ishak dan sekretaris 2 Yayasan Bapak H. Muhamad Zakky Abd. Razak Ma’mun membuat team yang intinya mempersiapkan untuk membuka kembali pendidikan tingkat Tsanawiyah berdasarkan surat tugas nomor:020/YRM/3/1994 oleh pengurus Yayasan (H. Ishak Muhasyim dan KH. Siddiq Fauzi) membuka madrasah Tsanawiyah Raudhatul Muta’allimin untuk tahun ajaran 1994/1995.

Ia bukan saja dikenal sebagai pendiri dan pemimpin madrasah, tetapi juga dikenal sebagai “singa podium’, namanya dikenal oleh hampir seluruh penduduk Betawi kala itu. Kiprahnya mulai dikenal orang ketika pada dekade 1950-an dan 1960-an, ia menjadi penceramah utama di Kwitang, di majelis Habib Ali Kwitang, sehingga menjadi kesayangan Habib Ali Kwitang.

Selain itu, ia sangat peduli dengan pendidikan murid-muridnya. Salah satu kepeduliannya adalah mengusahakan dana pendidikan agar murid-muridnya dapat belajar keTimur Tengah. Di antara murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama terkenal adalah KH. Abdul Azdhim Suhami, KH. Sidiq Fauzi, KH. Salim Jaelani dan adiknya, KH. Soleh Jaelani, KH. Muchtar Ramli, KH. Abdul Razak Chaidir, KH. Abdul Hayyi, dan KH. Abdur Rasyid.

KH. Abdul Razaq bin Ma’mun wafat pada tanggal 25 Muharram 1404 H/1 Nopember 1983 pada usia 67 tahun. Ia dimakamkan di Kompleks Masjid Darussalam, Kuningan, Jakarta Selatan, berdampingan dengan makam ayahnya, Guru H. Muhammad Ma'mun bin Jauhari bin Mi'un.

sumber  : https://www.jakarta.go.id/
               https://ulamamampang.wordpress.com