Biografi Gus Miftah

 
Biografi Gus Miftah

Riwayat dan Silsilahnya

Miftah Maulana Habiburrahman
 atau lebih dikenal dengan Gus Miftah (lahir di Lampung, 05 Agustus 1981; umur 38 tahun) adalah seorang ulama, da'i, dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Ia merupakan keturunan ke-9 Kiai Ageng Hasan Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo.

Gus Miftah merupakan da'i jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta oleh karena itu Gus Miftah juga dikenal sebagai ulama muda Nahdlatul 'Ulama yang fokus berdakwah bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pesantren. Namanya mulai diperbincangkan publik ketika video dirinya viral saat memberikan pengajian di salah satu kelab malam di Bali.

Keluarganya

Gus Miftah menikah dengan Hj Dwi Astuti Ningsih dikaruniai dua anak

Merintis Pesantren

Gus Miftah mendirikan pondok pesantren pada tahun 2011. Pondok pesantren pada umumnya memiliki nama dari Bahasa Arab atau mengambil nama seorang tokoh. Beberapa juga menamainya dengan nama daerah keberadaan pondok pesantren itu.

Gus Miftah memberikan nama Ora Aji untuk pondok pesantren yang didirikannya. Ora Aji sendiri berarti tak berarti. Bukan sekadar nama, ada filosofinya, yakni bahwa tak ada seorang pun yang berarti di mata Allah selain ketakwaannya.

Perjalanan Dakwah Beliau

Perjalanan dakwah Gus Miftah, kyai asal Ponorogo kelahiran Lampung ini dimulai saat usianya masih 21 tahun. Pada sekitar tahun 2000-an, Gus Miftah yang sering salat tahajud di sebuah musala sekitar Sarkem, sebuah area lokalisasi di Yogyakarta, kemudian berniatan berdakwah. Saat itu ia ditemani Gunardi atau Gun Jack sosok yang menjadi penguasa pada saat itu.

Bermula dari kegiatan tersebut, kajian agama mulai rutin digelar oleh Gus Miftah. Meski awalnya banyak tantangan, tapi saat ini sejumlah pekerja dunia malam sudah menerima kehadirannya. Tidak jarang, ketika pengajian sejumlah jemaah meneteskan air mata dan mulai merubah perilakunya secara perlahan.

Perjalanan dakwah Gus Miftah kemudian berlanjut ke kelab malam dan juga salon plus-plus. Awalnya ia masuk lantaran mendapati keluh kesah para pekerja dunia malam yang kesulitan mendapat akses kajian agama. Ketika hendak mengaji di luar mereka mengaku menjadi bahan pergunjingan. Sebaliknya di tempat kerjanya tidak ada kajian agama yang bisa didapatkan.

Berbeda dengan dulu saat mendapat penolakan ketika hendak memberi kajian, kini banyak pekerja malam yang merasa butuh untuk mendapat pengajian. Tidak jarang beberapa banyak pekerja malam kemudian berhijrah menjadi lebih baik. Sejak lima tahun terakhir langkahnya pun didukung oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya asal Pekalongan.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber