Biografi KH. Hasbullah Abdusyakur

 
Biografi KH. Hasbullah Abdusyakur

Daftar Isi Profil KH. Hasbullah Abdusyakur

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mengelola Madrasah
  6. Mengelola Pesantren
  7. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  8. Pendiri Ma’had Ali Krapyak
  9. Teladan

Kelahiran

KH. Hasbullah Abdusyakur lahir pada Juni 1942 di Kedung Cumpleng, Semarang. Beliau adalah putra dari H. Abdusyakur bin H. Abdullah bin H. Khairuman dari Bati Alih, Jepara dan Hj. Mariah binti K.H. Cudlori dari Mayong, Jepara.

Dari jalur bapak, kakek beliau merupakan petinggi desa atau birokrat, sementara dari jalur ibu masih kerabat dengan Mbah Soleh Darat, yang mana beliau merupakan guru dari KH. Munawwir, KH. Ahmad Dahlan, R.A. Kartini dan KH. Hasyim ‘ Asyari.

Wafat

KH. Hasbullah wafat di umur yang tergolong masih muda, yaitu 54 tahun. Beliau meninggal dunia karena sakit diabetes dan gagal ginjal yang mengharuskan untuk cuci darah setiap minggu. Sebelum wafat, beliau dirawat sampai 15 hari dan menghembuskan napas terakhir pada 9 Safar, tepatnya Selasa pagi tahun 1996.

Sebelum wafat, beliau juga masih sempat bersih diri dan seakan sudah siap hendak pergi. Menurut putranya, bapak melakukan hal yang tidak biasa. Seperti sudah firasat, Kiai Hasbullah menyetak kalender khusus bulan Muharram dengan bahasa Arab dan kemudian disebar ke Kiai-Kiai dan internal Krapyak sendiri.

Dari putranya, Gus Afif menuturkan bahwa beliau sering menemani KH. Hasbullah untuk cuci darah setiap pekan. Waktu itu, Gus Afif yang tengah menjalani KKN tidak bisa lagi menemani sang bapak untuk ke rumah sakit. Saat itulah, beliau mendapat kabar mengenai Kiai Hasbullah yang sudah dirawat di rumah sakit. Ketika wafat, Gus Afif ada di sana bersama sang ibu .

KH. Hasbullah Abdusyakur dimakamkan di Dongkelan dekat makam Mbah Munawwir. Meskipun telah tiada, namun jasa dan usaha semasa hidupnya masih bisa dirasakan sampai saat ini. Salah satunya adalah bagaimana  Madrasah  Aliyah berjalan dan sikap disiplin yang dapat diterapkan pula oleh anak- anaknya sampai saat ini.

Keluarga

KH. Hasbullah Abdusyakur melepas masa lajangnya dengan menikahi putri ketiga KH. Ali Maksum yaitu Hj. Hanifah. Sanad istrinya dari jalur bapak yaitu Hanifah binti Ali Maksum bin Maksum bin Ahmad. Dari jalur Ibu, Hanifah binti Hasyimah binti Munawwir bin Abdullah Rosyad. Hj. Hanifah lahir tahun 1950.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai lima anak diantaranya, Nur  Aini (Alm), Hilmy Muhammad, Zaky Muhammad, Afif Muhammad, dan Maya Fitria.

KH. Hasbullah merupakan santri yang kuat dan sudah dipercaya untuk mengajar, tidak heran jika KH. Ali Maksum memilih beliau menjadi menantunya. Tidak sembarang orang bisa menikah dengan putri Kiai. Sebelum memilih KH. Hasbullah, KH. Ali Maksum meminta pertimbangan kepada KH. Maksum. Akhirnya, pernikahan putrinya tersebut dilangsungkan di Lasem. 

Pendidikan

KH. Hasbullah Abdusyakur memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama di tanah kelahirannya. Kemudian, ketika menginjak sekolah Aliyah, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Krapyak.

Di Krapyak, beliau belajar ke beberapa guru diantaranya, KH. Ali Maksum, KH. Zaenal Abidin Munawwir, KH. Warson Munawwir, dan Mbah Tabarrun (Bantul).

Selain di Krapyak, beliau juga pernah merasakan didikan Mbah Ma'shum di Pesantren Lasem terlebih saat puasa. Mbah Ma'shum merupakan ayah dari KH. Ali Maksum.

Selain  menuntut  ilmu  di  pesantren, beliau  juga mengenyam pendidikan formal. Pendidikan tingkat Tsanawiyah atau setara SMP diselesaikan di Jepara, kemudian melanjutan pendidikan tingkat Aliyah atau SMA di Yogyakarta. Setelah lulus Aliyah, beliau meneruskan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Syariah Program studi Peradilan. Tidak hanya itu, beliau juga merangkap kuliah di UGM Fakultas Hukum Program Studi Hukum Adat. Meskipun masih kuliah, beliau sudah mengajar diniyah di Krapyak.

Kiai Hasbullah menyelesaikan studi di UGM pada tahun 1988. Ada suatu kisah dibalik lulusnya dari UGM. Dosen pembimbing beliau benar- benar mencari dan menggerakan beliau untuk menyelesaikan studi sampai harus bertandang ke rumah dan bimbingan di sana. Hal itu kemudian membuahkan hasil dengan selesainya studi beliau menjadi sarjana.

Setelah lulus S1, beliau berniat melanjutkan S2 di Al- Azhar, Mesir, tetapi keinginan ini gagal karena keadaan Mesir yang sedang perang. Selain itu, Kiai Hasbullah juga pernah mencoba lagi untuk melanjutkan S2 di Australia tetapi lagi-lagi gagal karena pemerintah yang memihak pada golongan tertentu dan tidak transparan. Pada saat itu, tidak semua orang bisa kuliah di luar negeri. Termasuk KH. Hasbullah, hal ini bisa jadi diakibatkan oleh keberpihakan pemerintah dengan  golongan  tertentu, sehingga membuat semuanya menjadi tidak transparan dan sulit.

Mengelola Madrasah

KH. Hasbullah didawuhi untuk mengelola madrasah di Krapyak oleh KH. Ali Maksum. Sejak awal diangkat, beliau menjadi pengasuh Tsanawiyah 6 tahun bersama KH. Zaenal dan KH. Attabik Ali. Pada tahun 1970 masih bernama Madrasah Tsanawiyah 6 tahun. Beberapa tahun setelahnya, peraturan pemerintah mengharuskan madrasah harus dibagi menjadi dua tingkat yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Waktu itu, Kepala Madrasah Tsanawiyah dijabat KH. Masyhuri Ali Umar sementara Kepala Madrasah Aliyah dijabat oleh KH. Hasbullah sendiri.

Selama mengelola madrasah, beliau memanage madrasah dengan managemen yang modern. Buah pemikiran Kiai Hasbullah ini ditiru dan diikuti oleh penerus- penerusnya. Beliau mengubah beberapa kebiasaan di pesantren, seperti  tidak boleh bersekolah dengan memakai sarung sampai keharusan memakai sepatu. Banyak orang memiliki kesan bahwa beliau adalah orang yang sangat disiplin dan tepat waktu. Inilah yang membuat beliau memiliki wibawa yang tinggi dan sangat dihormati banyak orang, terlebih oleh murid-muridnya sendiri.

Diceritakan dari KH. Muslih Ilyas (santri KH. Ali Maksum yang kini menjadi pengasuh PP  Bangun Jiwo, Bantul), Kiai Hasbullah adalah sosok yang selalu terjun langsung ketika memberi perintah baik dengan mengikuti setiap musyawarah maupun diskusi yang ada. Suatu ketika, ada sebuah kelompok yang kebetulan berisi santri- santri putri, bukannya berdiskusi, santri- santri ini malah terlihat asyik mengobrol.

KH. Hasbullah mengutus muridnya untuk membelikan kacang dan diberikannya kacang itu pada santri- santri putri tersebut. Hal ini sebagai sindiran bahwa seharusnya mereka berdiskusi, bukan mengobrol. Dengan cara-cara yang tidak biasa itulah, KH. Hasbullah mendidik santri- santrinya.

Selain itu, Kiai Hasbullah juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin. Menurut salah satu putranya Gus Hilmy, beliau merupakan seorang pendidik yang disiplin. Meskipun semua putranya menempuh pendidikan di Madrasah yang beliau pimpin, tetapi tidak pernah ada keistimewaan dan kekhususan yang diberikan kepada putra- putrinya.

Putra-putrinya tidak pernah bolos dan terlambat meskipun di sekolah sendiri. KH. Hasbullah membuat kebijakan terhadap presensi kehadiran yang apabila kurang dari 90% maka siswa tidak bisa ikut ujian. Hal ini juga berlaku untuk anak- anaknya.Tidak ada istilah anak emas maupun keistimewaan tersendiri. Semuanya sama dan tidak dibeda-bedakan.

Beliau meletakkan pondasi bagaimana harus hidup disiplin dan kerja keras. Beliau tidak memaksa anaknya untuk sekolah di mana, hal terpenting dari sekolah yang dipilih adalah sungguh- sungguh. Mereka diberi kebebasan dalam pilihan tetapi harus bisa bertanggung jawab dengan pilihannya. Apapun fokus pendidikannya, hal yang penting yang harus diingat adalah pondasi yang telah dibangun oleh Kiai Hasbullah kepada anak- anaknya.

Kiai Hasbullah dikenal sangat tegas dalam mendidik. Perlakuan-perlakuan terhadap santrinya tentu diinternalisasi oleh putra- putranya. Maka dari itu, putra- putri beliau sudah terbiasa dengan sikap beliau yang tegas dan disiplin. Pernah suatu ketika salah satu putranya tidak mau mengaji pada saat jam mengaji. Beliau hanya menyuruh anaknya untuk tidur di kamar dan tidak boleh kemana- mana.

Inilah kemudian menjadi cara beliau untuk mendidik anaknya menjadi seorang yang disiplin. Selain itu, beliau juga tidak pernah memuji anaknya, terlebih membangga-banggakan di depan orang lain. Karena ketika anak dipuji, maka ia akan cepat merasa puas dengan apa yang sudah mereka peroleh. Perlakuan-perlakuan semacam inilah yang membuat anak- anak beliau menjadi manusia yang sungguh-sungguh dan serius dalam melakukan sesuatu.

Menurut Gus Afif salah seorang putranya KH. Hasbullah seperti tulang punggung beroperasinya pondok dan madrasah. Beliau ikut mengelola, mengatur, mengontrol, dan mengevaluasi kegiatan di madrasah. Beliau sangat istiqamah dan totalitas dalam mengerjakan sesuatu. Apapun kegiatannya, beliau selalu melakukannya dengan baik dan sungguh- sungguh.

Mengelola Pesantren

KH. Hasbullah merupakan santri yang menonjol ketika ngaji di Krapyak. Salah satunya disebabkan latar belakang beliau yang pernah berguru dan ngaji sebelum di Krapyak, tepatnya di Jepara. Hal ini yang membuat beliau dipercaya untuk mengajar di Krapyak. Beliau bisa mengajar berbagai bidang keilmuan, dari mengajar Alfiyah Ibnu Aqil, Musthalah Hadis, Ilmu Tafsir, Fikih, kitab tahrir, Tafsir Jalalain, Jawahirul Bukhari, Irsyadul Ibad,  dan beberapa kitab dari bidang keilmuan lainnya.

KH. Hasbullah mengajar diniyah bersama KH. Ali Maksum. Pembagiannya, tiga hari ngaji dengan KH. Ali Maksum, maka tiga hari setelahnya ngaji dengan KH. Hasbullah. Menurut pengakuan putranya, beliau tidak hanya fokus mengajar di satu bidang, tapi semua bidang. Artinya, beliau benar- benar menguasai seluruh materi yang ada.

KH. Hasbullah ditugasi bagian internal pondok dan berkecimpung di dalamnya. Beliau mencurahkan semua daya upaya dalam kegiatan mengaji dan sekolah pada pagi, sore, siang, dan malam. Beliau mengawasi musyawarah dan bahkan ikut berdiskusi di dalamnya.

Pada waktu itu, KH. Ali Maksum membagikan wakaf tanah kepada beberapa Kiai yang mengabdi di Krapyak dan KH. Hasbullah merupakan salah satu orang yang mendapat nadhir wakaf dari Mbah Ali. Kemudian, wakaf tanah tersebut dibangun menjadi Pondok Pesantren di bawah yayasan Ali Maksum.

Komplek Sakan adalah komplek yang dikelola oleh KH. Hasbullah. Meskipun wakaf tanah dari Mbah Ali, tetapi tidak semua tanah wakaf masuk yayasan Ali Maksum, melainkan tergabung dalam Pondok Pesantren Al-Munawwir. Seiring berjalannya  waktu, wakaf ini berkembang, Ali Maksum berkembang, Al Munawwir juga berkembang. Polanya dari tiap- tiap kesatuan memang berbeda, tetapi secara kekeluargaan tidak ada bedanya.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Selain aktif mengelola pesantren dan Madrasah Aliyah, KH. Hasbullah juga menjabat sebagai Ketua MUI Bantul. Selain itu, beliau juga aktif di PWNU Yogyakarta. Jabatan terakhir beliau sebelum wafat yaitu Wakil Rais Pengurus Wiayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun begitu,  beliau tidak terjun di bidang politik. Beliau tetap menjadi pendidik dan menghabiskan waktu untuk mengajar.

Pendiri Ma’had Ali Krapyak

KH. Hasbullah termasuk salah satu dari orang- orang yang menjadi inisiator Ma’had Ali di Krapyak. Ma’ had Ali merupakan perguruan tinggi ilmu salaf yang jenjang pendidikan klasikalnya menempati posisi teratas dalam pendidikan pesantren, dengan masa kuliah 4 tahun (8 semester).

Perintisan dan pendirian lembaga pendidikan Ma’ had Ali ini setelah menyadari akan perlunya suatu lembaga pendidikan tinggi yang bersifat pendalaman (ta’ ammuq fi ad- din) untuk masyarakat dan alumni, yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat menengah atas.

Setelah diadakan studi banding ke Jakarta yang dipimpun oleh KH. Hasbullah Abdusyakur dan atas restu dari KH. Zainal Abidin Munawwir, KH. Warson Munawwir, dan keluarga besar Al- Munawwir, maka pada tahu 1414 H/1993 M secara resmi dibuka Ma’ had Aly Krapyak dengan Mahasiswa/Mahasiswi angkatan pertama sebanyak  30 orang.

Teladan

Teladan yang bisa ditiru dari KH. Hasbullah adalah sosok Kiai yang dermawan. Diceritakan dari KH. Muslih Ilyas pernah suatu ketika Pak Muslih yang menjadi santri ndalem Kiai Ali hendak meminjam uang kepada KH. Hasbullah untuk membeli tanah. Meskipun berstatus sebagai santri ndalem, dengan ringan dan mudah KH. Hasbullah memberikan sejumlah uangnya untuk Pak Muslih.

Kisah lain adalah ketika Gus Afif akan melaksanakan KKN, Pengasuh Komplek H tersebut ditugaskan untuk membangun musala. Beliau kekurangan bahan dan meminta kepada Kiai Hasbullah. Saat itu, Kiai Hasbullah sedang mengurus pembangunan Komplek Sakan, jadi ada beberapa bahan yang bisa dibawa oleh Gus Afif. KH. Hasbullah membolehkan kepada Gus Afif tanpa peritimbangan apapun.