Biografi KH. M. Hasyim Latief

 
Biografi KH. M. Hasyim Latief

Daftar Isi Pofil KH. M. Hasyim Latief

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Bergabung dengan Hizbullah
  5. Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Karya-Karya

Kelahiran

KH. M. Hasyim Latief lahir pada hari Rabu 26 Dulqo’dah 1346 H atau pada 16 Mei 1928 di rumah H. Syukur (kakak dari Asiyah) di desa Pakelan Kecamatan Kota Kabupaten Kodya Kediri. Beliau merupakan anak dari pasangan H. Abdul Latief dengan Asiyah.

Pada usia 5 tahun (1933), Hasyim Latief diajak pindah oleh orang tuanya ke daerah Jombang, yakni Desa Somobito. Semenjak pindah dari Kediri ke Jombang, ayahnya tetap menjalankan usaha sebagai pandai besi dan juga pedagang. Demikian juga ibunya ikut membantu mencari nafkah dengan membuat jajan gorengan, kemudian di titipkan ke penjual keliling.

Semenjak kecil Hasyim Latief dididik dan dilatih (ditempa) dalam situasi dan kondisi yang begitu keras, dengan disiplin yang tinggi, walaupun suasana kehidupan orang tuanya dalam kondisi berkecukupan pada waktu itu.

Kemandirian dan kerja keras yang di lakukan H. Abdul Latief disaksikan oleh anak-anaknya termasuk Hasyim Latief pada waktu itu, menjadikan motivasi dorongan yang kuat bagi Hasyim Latief  untuk melakukan usaha mandiri dengan membantu ibunya berjualan. Dengan menjual kue gorengan ibunya untuk dibawa keliling ke desa-desa sekitarnya.

Demikian juga sikap tegas dan disiplin dalam menjalankan perintah agama yang diterapkan H. Abdul Latief kepada anak-anaknya menjadikan Hasyim Latief tidak mudah mengeluh dan putus asa, tapi menjadikan anak yang percaya diri dalam kesederhanaan dan mampu selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dari pemberian yang diterima.

Perubahan terus berjalan, kehidupan Hasyim Latief terus berubah dari hasil tempaan (gemblengan) dari orang tuanya. Semula tidak bisa membaca dan menulis kini sudah mulai terlatih dan mengenal huruf arab dan latin yang diajarkan oleh ayahnya H. Abdul Latief seorang ayah yang penuh kasih sayang dan tegas dalam menjalankan perintah agama.

Sehingga kebutuhan akan pendidikan bagi anak-anaknya tetap menjadi perhatian, apalagi sebagai seorang pedagang yang harus memahami tentang pengaturan keuangan dan juga sebagai pegawai pencatat nikah di kecamatan Sumobito. Sehingga wajar anak-anaknya mendapat didikan dan gemblengan yang lebih berat diantara anak-anak yang lain pada waktu itu.

Wafat

KH. M. Hasyim Latief wafat pada usianya yang ke 77, pada hari selasa 19 April 2005 pukul 12.05. KH. Beliau dimakamkan di komplek YPM Ngelom Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur.

Pendidikan

Sejak kecil hingga usia 8 tahun Hasyim Latief tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Oleh orang tuanya ia dan kakaknya dikirim ke Pesantren Tebuireng. Sebab pada waktu itu belum banyak pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun ada sekolah formal waktu itu hanya ada di kota-kota besar.

Ketika di Pesantren Tebuireng metode yang digunakan adalah santri tidak dipisahkan berdasarkan umur maupun kemampuan kecerdasannya. Sehingga pada waktu itu, santri di Pesantren Tebuireng sudah mencapai lebih dari 100 anak yang nyantri disana. Mereka mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai. Menulis pun dilakukan di atas lantai. Sebab dampar (bangku panjang) masih jarang dan merupakan barang mahal.

Hasyim Latief menempati sebuah bilik bersama kakaknya dan 3 orang santri lain yang sama-sama berasal dari Kecamatan Sumobito. Ia di tempatkan di Pesantren Seblak, salah satu bagian dari Pesantren Tebuireng, yang terletak sekitar 3 km sebelah utara Tebuireng. Ia ditunjuk sebagai wakil lurah pondok. Pengasuhnya adalah KH. Mahfudz Anwar yang kemudian dikenal sebagai ahli falaqnya NU.

Selain KH. Mahfudz, di Pesantren Seblak juga terdapat lurah pondok yang ditugaskan kiai untuk mengawasi para santri. Ia bernama Jaing, santri dari Kudus yang pernah sekolah di HIS (sekolah SMP pada zaman Belanda). Ia cukup pandai dalam pelajaran umum. Selain menjadi Lurah Pondok, pada siang hari ia mengajar para santri, mengajarkan berhitung, ilmu bumi, dan membaca. Karena itu, pengetahuan umum para santri meningkat.

Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari juga ikut mengajar, tetapi hanya mengajarkan kitab dan sifatnya monosuko artinya, dalam mengikuti pengajian tersebut tidak ada keharusan. Semua santri boleh ikut atau tidak ikut mengaji.

KH. Hasyim Asy'ari adalah ulama yang sangat alim, terutama dalam bidang ilmu Hadits. Beliau sangat ahli dalam ilmu Hadits. Pada tiap bulan puasa beliau mengajarkan kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga tiap bulan Ramadhan banyak santri dan kiai yang datang ke Pesantren Tebuireng untuk mengikuti pengajian KH. Hasyim Asy'ari.

KH. Hasyim Asy'ari adalah ulama yang tidak pernah hidup dari pemberian orang lain. Ia juga tidak pernah menerima uang atau mengambil uang dari pondok pesantren. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil sawah yang terletak di desa Mbadas, sekitar 10 km dari Tebuireng, yang penggarapannya dikerjakan oleh orang lain. Pada sekitar pukul 7.30 WIB, setelah mengajar para santri, ia pergi ke sawah dengan mengendarai dokar, dan baru pulang pada pukul 11.00 WIB.

Hasyim Latief  beruntung karena dapat berguru secara langsung kepada KH. Hasyim Asy’ari. Hasyim Latif juga sempat mengikuti dua kali khataman Shahih Bukhari. Selain dari KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Mahfudz Anwar, ia juga mendapat didikan sejumlah ulama yang dihormati saat itu. Mereka adalah Kiai Syarkawi (Blitar), Kiai Da’im (Kudus),Kiai Nur Azis (Singosari), dan Kiai Syamsun (Gayam).

Setelah 6 tahun belajar di Pesantren Tebuireng,  Hasyim Latief kembali ke Sumobito. Tak lama kemudian, ia kembali mencari ilmu dengan mengaji ke KH. Syamsul Huda Sumobito dan KH. Arif Balongdowo, Jombang.

Bergabung dengan Hizbullah

Sejak dibentuk dewan pimpinan Hizbullah pada Januari 1945, yang diketuai oleh KH. Zainul Arifin sebagai ketua komandan, KH. M. Hasyim Latief ikut menjadi peserta dalam pelatihan Hizbullah yang dipusatkan di Cibarusa, Bogor.

Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah se-Jawa dan Madura.

Seiring berjalannya waktu, KH. M. Hasyim Latief ditujung untuk menjadi sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A Wahib Wahab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir.

Dikisahkan, KH. Hasyim Latief yang menjadi komandan peleton, menyerang pasukan Belanda. Namun pasukannya bercerai berai karena Belanda memiliki senjata modern dan pasukan berjumlah lebih banyak.

Beliau terpisah dari pasukannya. Ia yang berlari sendirian terus dikejar tentara Belanda. Pada situasi terjepit inilah KH. Hasyim Latief melakukan kontak doa kepada Allah SWT. Kontak doa itu salah satunya dengan melafalkan wirid Jaljalud agar tidak terjadi kontak senjata, maklum kekuatan pasukannya tidak sebanding dengan pasukan Belanda.

Beliau yang saat itu bersembunyi di tengah semak belukar menemukan keajaiban. Tentara Belanda sesungguhnya berhasil menemukan tempat persembunyianya. Jika saja tentara penjajah memberondongkan senjata ke persembunyiannya, secara nalar dipastikan ia tewas.

Namun kebesaran Tuhan datang KH. Hasyim Latief lenyap dari kejaran tentara musuh. Tentara Belanda pun uring-uringan karena yang diburu hilang dari pandangan. Seketika itu, muncul seseorang yang oleh tentara Belanda dikira KH. Hasyim Latief, padahal bukan.

Tentara Belanda langsung memuntahkan pelurunya ke arah orang yang di matanya dianggap sebagai sosok KH. Hasyim Latief. Tentara musuh bergembira karena merasa telah membunuh KH. Hasyim Latief. Selanjutnya, pasukan Belanda melakukan operasi ke tempat yang lain. Beliau pun terlepas dari maut.

Pemerintah Soekarno pernah mencurigai KH. Yusuf Hasyim terlibat Pemberontakan DI/TII. Tudingan Presiden Soekarno berimbas pula ke KH. Hasyim Latief karena ia berada dalam satu barisan dengan KH. Yusuf Hasyim. Tuduhan ini sempat menyeret KH. Hasyim Latief ke meja hijau. Namun, ia kemudian melarikan diri ke Yogyakarta dan masuk ke UII (Universitas Islam Indonesia).

Versi lain menyebutkan, kepergian KH. Hasyim Latief ke Yogyakarta sebagai bentuk penolakan terhadap perintah Presiden Soekarno untuk memberantas pemberontakan Kahar Muzakar di Makassar. KH. Hasyim menolak berperang dengan sesama muslim.

Namun, ada versi ketiga yang mengatakan ia lari ke Yogyakarta karena dituduh terlibat DI/TII sebagai akibat sering mengajak anak buahnya di TNI melakukan tahlilan dan istighotsah. Versi ini diungkapkan Suhaimi Syakur, mantan Ketua Lembaga Ma’arif PWNU Jawa Timur.

Ada juga yang mengisahkan, pelarian KH. Hasyim Latief ke UII akibat tertangkapnya KH. Yusuf Hasyim dengan tuduhan terlibat DI/TII. KH Hasyim Latief adalah anak buah KH. Yusuf Hasyim sehingga ia mendapatkan tudingan yang sama.

KH. Yusuf Hasyim tertangkap dan diadili. Ia mendapat hukuman dibuang ke Mesir sementara Chaerul Saleh ke Belanda. Di Mesir KH. Yufuf Hasyim tidak kerasan dan atas jasa baik KH. Idham Chalid balik ke Indonesia sedang Chaerul Saleh bersekolah hingga lulus di Belanda.

Di UII, KH. Hasyim Latief menggunakan nama Munir sebagai cara menghapus jejak agar tak dikejar-kejar pemerintah Soekarno. Nama ini kelak melengkapi nama aslinya, Hasyim Latief. Sehingga ia kelak menggunakan nama Munir Hasyim Latief. Di sana, ia memilih fakultas hukum.

Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Hasyim Latief adalah pendiri Pertanu (Persatuan Tani dan Nelayan NU). Ini untuk melawan gerakan-gerakan PKI yang menggunakan Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960. PKI menggunakan massa-massanya dari BTI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat untuk mengganggu, bahkan menyerobot tanah-tanah umat Islam.

 Alasannya, tanah itu melebihi ketentuan 5 hektare sesuai Landreform (Reformasi Agraria). Pertanu dibentuk 1963. Sebagai ketua Pertanu Jawa Timur ditunjuk Katamsi, seorang pegawai pasar dan Sukarno (sekretaris KH Hasyim Latief) menjadi sekretarisnya.

Tahun-tahun berikutnya, KH. Hasyim Latief aktif dalam kepengurusan di NU dalam berbagai level, mulai dari ketua PWNU Jawa Timur, wakil ketua PBNU, wakil Rais Syuriah PBNU, dan Mustasyar PB NU. Beliau juga pernah aktif menjadi anggota legislatif di Jawa Timur dan duduk sebagai wakil ketua DPRD dan anggota DPR RI dengan menjadi anggota komisi VI bidang pendidikan dan agama.

Karya-Karya

Kiai Hasyim Latief juga menulis "Nahdlatul Ulama Penegak Panji Ahlussunnah wal Jamaah". Buku ini awalnya diterbitkan PWNU Jawa Timur pada 1979. Setelah lama tidak terbit, LTN NU Jawa Timur menerbitkan ulang pada Februari 2019 lalu.

Buku ini pernah menjadi rujukan dalam kaderisasi di level PWNU hingga Ranting saat Kiai Hasyim Latief menjabat sebagai Ketua PWNU Jatim (1982-1987).

Buku ini bukan hanya menjelaskan prinsip-prinsip ke-NU-an, melainkan juga narasi sejarah yang dialami oleh NU (sejarah pendirian, perjalanan dari Muktamar ke Muktamar, Resolusi Jihad, keluar dari Masyumi dan menjadi parpol, pembentukan Liga Muslimin, sikap menghadapi Gestapu, dan lain-lain). Termasuk kronik seputar perjalanan NU: peranan tukang masak di forum muktamar hingga perjalanan muktamar yang semula lesehan hingga memakai kursi, dan kisah unik lainnya.