Biografi KH. Syarfuddin Abdus Shomad Sumenep

 
Biografi KH. Syarfuddin Abdus Shomad Sumenep

Daftar Isi Profil KH. Syarfuddin Abdus Shomad Sumenep

  1. Kelahiran
  2. Pengasuh Pesantren
  3. Peranan di Masyarakat
  4. Amalan

Kelahiran

KH. Syarfuddin Abdus Shomad lahir pada 1925, di Sumenep, Madura. Beliau merupakan putra dari Kiai Abdus Shomad.

Nasab beliau dari jalur ayah, sebagai berikut Kiai Syarfuddin bin Kiai Abdus Shomad bin Kiai Daud bin Kiai Damsyiah bin Kiai Abdul Bari. Menurut Kiai Syarfuddin, Kiai Abdul Bari adalah murid Sunan Giri yang diutus untuk menyebarkan Islam hingga ke Pulau Kangean. 

Pengasuh Pesantren

KH. Syarfuddin Abdus Shomad adalah pengasuh Pondok Pesantren Zainul Huda Duko Lao’ Arjasa Kangean Sumenep Madura, Jawa Timur. Beliau merupakan sosok pengasuh pesantren yanga sangat istiqomah dalam mengajar santri-santrinya. Coba perhatikan aktivitas kesehariannya. Selesai shalat subuh, Kiai Syarfuddin memanjangkan wiridnya hingga matahari terbit di ufuk timur. Berlanjut dengan membaca kitab-kitab utama buat para santri seperti kitab Bidayatul Hidayah dan Fathul Qarib. Selesai melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat, sang kiai mengajar di madrasah hingga menjelang shalat zuhur. 

Tidur qailulah sebentar, lalu menjadi imam shalat zuhur. Usai shalat, Kiai Syarfuddin memberi pengajian kitab yang lebih tinggi seperti kitab Mutammimah dan Ibnu Aqil. Usai menjadi imam shalat ashar, kembali ke madrasah hingga menjelang maghrib. Usai shalat maghrib, menerima setoran bacaan al-Qur’an para santri hingga Isya’. Usai shalat Isya’, menerima para tamu dari berbagai desa hingga larut malam. Habis Isya’, pada malam Selasa dan Jum’at, beliau membaca Kitab Kifayatul Atqiya’.

Peranan di Masyarakat

Melanjutkan khittah perjuangan leluhurnya, Kiai Syarfuddin tak bosan membimbing masyarakat agar mereka mengerti pokok-pokok ajaran Islam. Hari-harinya penuh dengan aktivitas peribadatan, dari habis subuh hingga malam. Di samping mengerjakan yang wajib, beliau sangat rajin mengerjakan perkara-perkara sunnah. Bahkan, doa-doa di setiap basuhan dan usapan dalam wudhu’ seperti dianjurkan Imam Ghazali, beliau amalkan. 

Pada saat hari libur pesantren, seperti Hari Jum’at, waktu Kiai Syarfuddin sepenuhnya didedikasikan buat masyarakat. Menyelesaikan soal-soal kemasyarakatan, mulai dari kasus-kasus keluarga hingga kasus kriminal. Konflik-konflik keluarga bisa mudah ditangani karena kepercayaan tinggi masyarakat kepada beliau.

Begitu juga, kasus kriminal seperti carok yang kerap terjadi bisa dilerai dan diselesaikan sehingga tak berujung pada kematian salah satu pihak. Pada hari-hari tertentu, beliau kerap terjun sendiri memimpin kerja gotong royong memperbaiki jalan yang rusak, menata bendungan perairan sawah yang jebol, dan lain-lain.

Begitulah hari-hari Kiai Syarfuddin yang dijalaninya selama puluhan tahun. Mencengangkan, beliau menjalani aktivitas pembelajaran dan kerja kemasyarakatan itu dalam keadaan berpuasa. Ia meneladani para orang tuanya yang berpuasa sepanjang masa. Ketika ditanya, “bukankah puasa dahr itu dilarang?”. Kiai Syarfuddin menjawab, “saya sebenarnya mengikuti puasa Nabi Daud. Bedanya, jika hari ini diniati berpuasa, maka besoknya sekalipun tidak makan dan minum tidak diniati berpuasa”. Beliau mengisahkan, “pernah dicoba beberapa kali, sehari berpuasa dan sehari berikutnya makan, maka justru jatuh sakit”. 

Amalan

Sejak tahun 1973 sepulang dari menjalankan ibadah haji, Kiai Syarfuddin memilih tidak makan dan tidak minum di siang hari. Alias berpuasa sepanjang masa, kecuali pada hari-hari yang betul-betul diharamkan berpuasa seperti pada dua hari raya. Itu pun beliau hanya meminum segelas air mineral saja, sekedar membatalkan puasa. Walau aktivitas beliau bergerak sejak terbit matahari hingga larut malam, tak tampak guratan kelelahan di wajahnya. Padahal, di samping berpuasa, Kiai Syarfuddin adalah salah seorang kiai yang istiqomah qiyamul lail. Mungkin berkah puasa dan tahajud juga, beliau sangat jarang sakit.

Melihat kemampuan fisik Kiai Syarfuddin yang kuat itu membantu saya memahami stamina fisik Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang sangat prima. Jika disebut dalam sejarah bahwa Perang Badar berlangsung ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa, maka itu bukan mitos belaka. Jika dikisahkan bahwa Nabi SAW dan para Sahabatnya pernah melakukan perjalanan darat dari Madinah ke Tabuk (jarak seribu kilometer), maka itu bukan sesuatu yang mustahil. Keimanan yang kuat akan kebenaran ajaran Islam bisa menambah kekuatan dan stamina umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam. Kiai Syarfuddin sudah membuktikan itu.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya