Biografi Urwah bin az-Zubair

 
Biografi Urwah bin az-Zubair
Sumber Gambar: Foto istimewa

Laduni.ID, Jakarta - Urwah bin az-Zubair memiliki nama Abu ‘Abdillah ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-’Awwam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay bin Kilab Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Madani. Beliau dalah salah satu dari tujuh Fuqaha Madinah, yaitu sebutan untuk sekelompok ahli fiqih dari generasi tabi'in yang merupakan para tokoh utama ilmu fiqih di kota Madinah setelah wafatnya generasi Sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad.

Contents

 

Baca Juga: Biografi Said bin Musayab

Riwayat Hidup

Lahir

Beliau dilahirkan pada tahun 23H pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan di kota Madinah,

Keluarga

Beliau adalah putra dari Az-Zubair bin Al-’Awwam radhiyallahu ‘anhu. Ibu beliau adalah Asma’ binti Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma.

Urwah adalah adik dari Abdullah bin Zubair dan juga keponakan dari Aisyah. Neneknya adalah Safiyyah binti Abdul Muththalib, yaitu bibi Nabi Muhammad dari keluarga ayahnya.

Wafat

Beliau wafat pada tahun 94H/ 712M dalam usianya yang ke-70 tahun dalam keadaan sedang berpuasa.

Baca Juga:  Biografi Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar

Pendidikan

Beliau pun juga menimba ilmu dan mengambil riwayat hadits dari para sahabat di antaranya:

  1. Ali bin Abi Thalib ra
  2. Umar ra
  3. Ibnu Abbas
  4. Jabir
  5. Al Hasan
  6. Al Husain
  7. Abu Hurairah
  8. Ibnu Abbas
  9. Zaid bin Tsabit
  10. Al Mughirah bin Syu'bah
  11. Usamah bin Zaid
  12. Mu'awiyah
  13. Abu Ayyub al-Ansari
  14. Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq (ibu)
  15. Aisyah Ummul Mu’minin (bibi)
  16. Asma’ binti ‘Umais
  17. Ummu Habibah
  18. Ummu Salamah
  19. Ummu Hani’
  20. Ummu Syarik
  21. Fathimah bintu Qais
  22. Dhuba’ah bintu Az-Zubair
  23. Busrah bintu Shafwan
  24. Zainab bintu Abi Salamah
  25. Said bin al-Musayyab
  26. Amrah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anhunna ajma’in.

Penerus

Penerus beliau dari keturunan adalah Hisyam bin Urwah.

Para periwayat hadits berikutnya yang mengambil jalur darinya antara lain adalah Qatadah bin Di'amah, Ibnu Syihab az-Zuhri, Yahya bin Said al-Ansari, dan Zaid bin Aslam.

Para ulama yang berguru pada beliau adalah:

  1. Sulaiman bin Yasar
  2. Abu Salamah bin ‘Abdirrahman
  3. Ibnu Syihab Az-Zuhri
  4. Abu Az-Zinad
  5. Shalih bin Kaisan
  6. Ja’far Ash-Shadiq
  7. Ibnu Abi Mulaikah
  8. Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah
  9. Atha bin Abi Rabah
  10. Umar bin ‘Abdil ‘Aziz
  11. ‘Amr bin Dinar
  12. Yahya bin Abi Katsir
  13. Rabi'ah Ar-Ra'yi
  14. Nafi' Maula Abdullah bin Umar, dan sejumlah ulama yang lain

Baca Juga:  Biografi Sulaiman bin Yasar Al-Hilali Al-Madani

Teladan

Beberapa teladan beliau antara lain:

Penulis Kitab Perang

Beliau adalah orang pertama yang menulis tentang masalah Al-Maghazi (peperangan) dan yang paling banyak melantunkan syair pada zamannya.

Menjadi Rujukan Khalifah

Beliau adalah salah seorang di antara sepuluh ulama di kota Madinah yang selalu menjadi rujukan khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz sewaktu beliau menjabat sebagai gubernur di kota tersebut.

Doa Memasuki Kebun

Abu Az-Zinad menceritakan: Dahulu kebiasaan beliau setiap kali memasuki kebun, selalu membaca surat Al-Kahfi ayat 39 dan diulang-ulanginya bacaan tersebut:

ولولا إذ دخلت جنتك قلت ما شاء الله لا قوة إلا بالله إن ترن أنا أقل منك مالا وولدا.

Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (Al Kahfi: 39) ... sampai beliau keluar darinya.

Rajin Membaca Qur'an

Kebiasaan beliau dalam setiap harinya adalah membaca seperempat Al-Qur’an. Kemudian seperempat Al-Qur’an yang beliau baca pada siang harinya tersebut, dibaca dalam shalat malamnya. Dan tidak pernah sekalipun beliau meninggalkan kebiasaan ini kecuali pada malam diamputasinya kaki beliau.

Kesabaran Diamputasi Kaki

Beliau pada suatu waktu memiliki luka di telapak kakinya yang kiri yang mengeluarkan nanah dan semakin hari bertambah parah. Waktu berlalu, dan luka tersebut tidak saja semakin bertambah parah namun juga menyebabkan kakinya busuk serta semakin menjalar menggerogoti kakinya. Penyakit tersebut menurut para dokter pada waktu itu mengharuskan agar kakinya diamputasi, dan beliau menerima dengan tabah.

Maka dimulailah persiapan untuk operasi pemotongan kaki beliau. Kemudian para dokter tersebut menawarkan obat bius kepada beliau agar nantinya tidak merasakan sakit ketika kakinya digergaji. Namun beliau menolak tawaran tersebut seraya mengatakan: “Aku tidak pernah menyangka terhadap seorang yang beriman kepada Allah bahwa dia akan minum suatu obat yang akan membuat hilang akalnya sehingga dia tidak mengenal Rabbnya. Akan tetapi kalau kalian mau memotongnya silakan, dan aku akan berusaha menahan rasa sakitnya.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa tatkala beliau menolak tawaran para dokter tersebut, beliau mengatakan: “Akan tetapi jika memang kalian mau memotongnya silakan lakukan saja dan biarkanlah diriku dalam keadaan shalat agar aku tidak merasakan sakit dan pedihnya.

Maka dimulailah operasi pemotongan kaki beliau yang sebelah kiri dengan gergaji pada bagian atas sedikit dari kaki yang tidak terkena penyakit. Sewaktu proses amputasi tersebut sedang berlangsung, beliau tidak bergeming atau bergerak sama sekali dan juga tidak terdengar rintihan rasa sakit sedikitpun. Maka ketika telah selesai dari proses pemotongan kaki dan juga telah selesai dari shalatnya, datanglah khalifah Al-Walid menghibur beliau. Dan berkatalah ‘Urwah kepada dirinya sendiri: “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu, dahulu aku memiliki empat anggota tubuh (dua kaki dan dua tangan), kemudian Engkau ambil satu. Walaupun Engkau telah mengambil anggota tubuhku namun Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang darinya. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.

Wafat dalam Keadaan Berpuasa

Hisyam bin ‘Urwah mengatakan, " Dahulu ayahku berpuasa terus-menerus dan meninggal dalam keadaan berpuasa. Ketika ajal menjelang, dia sedang berpuasa, lalu keluarganya memintanyanya agar berbuka saja namun dia menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di tangan bidadari."


Baca Juga:   Biografi Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab


Sumber:

  • Al-Bidayah Wan Nihayah
  • Siyar A’lamin Nubala’
  • Tadzkiratul Huffazh
  • Muhammad The Messenger of God
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya